Wednesday, November 19, 2008

Rumah...

Jumat Malam..
Dua pasang tangan tua itu menyambutku dengan haru, ada getir dan getar yang kuat yang tersekat di tenggorokan saat melihat mereka tersenyum melihat kedatanganku dengan istri tercintaku..Serasa ingin kutumpahkan tangis di pelukan mereka.
"Ka, uih oge..(Ka, pulang juga..)" begitu kalimat mereka. Mereka sambut aku dan istriku penuh rasa bahagia, padahal waktu sudah sangat malam. Aku rindu mereka, rindu orangtuaku, rindu rumah...sangat...

Sabtu seharian...
Kuhirup seharian wangi rumah. Kuraba setiap jengkal tempat yang membesarkan aku ini. Kurasakan getaran-getaran magis yang diberikan oleh tempat ini..
Tidak ada tempat terbaik di dunia ini selain disini..Di rumah ini..
Dari fajar hingga menjelang senja kuhabiskan waktu untuk menikmati sensasi rindu akan tempat ini. Aku rindu...Sangat..sangat rindu...

Dan kenapa waktu terasa begitu cepat..Kenapa tega benar..Aku masih rindu...
Masih sangat rindu..

Sabtu malam..
Enggan kupenjamkan mata..Enggan kuakhiri hari dalam haru ini. Besok aku harus tinggalkan lagi tempat ini..Mau kuapakan rasa rinduku..Dia masih terasa kuat di setiap sendi badanku.. Mau kuapakan..Aku masih rindu..

Minggu...
Segera kukuatkan hati. Mencoba jadi lelaki sejati. Kembali akan berjalan di kehidupan nyata..
Semua terasa berat. Sekat di tenggorokan kembali terasa kuat. Bahkan terasa lebih berat 10x lipat. Aku coba kuatkan diri. Menahan haru melihat bagaimana orangtuaku masih mencoba menahan kami agar jangan pergi.
Mereka memasak masakan kesukaan kami. Mereka menahan kami dengan berbagai cara. "Besok saja.." Pinta mereka dengan sangat dalam lirih.
Ya Tuhan.. Betapa berat haru yang kutahan. Tapi asa, cita-cita, istri, dan kehidupan nyata harus tetap kutempuh.. Aku harus pergi..
Mereka melepasku dengan haru, ada cekat luar biasa di tenggorokan.. Pintu rumah seakan gerbang sempit yang harus aku masuki, sangat berat.. Mereka melambai, menahan haru, masih mencoba menahan kami pulang... Rumah..Aku pergi lagi..
Tangis itu keluar dalam langkahku membelakangi rumah untuk pergi.. Terus menangis.. Aku masih terlau sangat rindu..

Aku pergi bukan untuk menghilang.. Tapi untuk hidup.. Aku pergi bukan untuk pulang.. Karena pulang buatku adalah hanya satu, yaitu ke rumah ini, dan rumahku dengan istriku kelak. Aku akan sangat rindu..
Rumah..
Tunggu aku pulang lagi...

Tuesday, November 04, 2008

Dongeng Sang Pangeran

Alkisah ada seorang pangeran. Muda, gagah, kaya, pintar. Pangeran yang hidup di era modern ini sangat terkenal untuk pemuda seusianya. Hampir seorang di negeri itu mengenal dia dengan baik reputasinya sangatlah bagus diluar. Penghargaan demi penghargaan selalu dia dapatkan. Semua orang memuji, semua orang memuja, semua orang kagum..

Sang pangeran yang masih berusia muda pun semakin tersanjung, dan selalu ingin berbuat lebih dari apa yang lakukan sekarang. Jelas untuk bisa seperti itu dia tidak bisa melakukannya sendiri. Dia butuh orang lain, dia butuh team. Akhirnya pangeran pujaan itupun mulai menyeleksi dan mengadakan sayembara

Ribuan orang mendaftar untuk jadi bagian team sang pengeran. Ada yang memang mencari uang, rata-rata orang dewasa lah yang daftar ini, ada yang sekedar mencari pengalaman saja, rata-rata fresh graduate.. Jelas akhirnya dipilihlah banyak fresh graduate karena mereka mau bekerja dengan lebih giat untuk menunjukan diri sebagai yang terbaik dan mau digaji lebih rendah daripada yang sudah berpengalaman.

Dimulailah kerja team sang pangeran ini. Pertama2 seluruh team bekerja sangat mantap, sangat kompak dan bersemangat. Berminggu-minggu mereka bisa bertahan dalam kondisi ini.

Namun, semua mulai merasa ada yang lain dengan sang pangeran. Lama kelamaan sang pangeran menunjukan gelagat aslinya. Ternyata sang pangeran ini seorang yang pengecut dan bodoh. Dia tidak berkarater pemimpin seperti apa yang selama ini digambarkan dan dipuja orang. Dia pengecut yang senatiasa menempatkan orang di depan dia hanya ketika ada kesalahan saja, sehingga orang tidak melihat dia ketika kesalahan itu tertampak. Dia tampilkan orang lain untuk menutupi kesalahan yang sebenarnya adalah kesalahan dia. Tapi selalu segera maju ke depan ketika ada pujian atau sanjungan, walaupun itu sanjungan mungkin lebih tepat diberikan untuk teamnya.

Teamnya tau, kalo sang pangeran yang diluar itu dipuja bak dewa itu, di dalam hanyalah seorang pemuda manja, ga tahu apa2, pengecut, dan sama sekali tidak bisa memimpin..

Sang pangeran memang lumayan ramah dan supel kepada siapapun. Tapi di dalam, dia bisa tiba2 jadi setan yang sangat dibenci teamnya.

Teamnya tidak bisa apa, karena butuh uang dari sang pangeran. Dan hal itu dimanfaatkan benar oleh sang pangeran. Dia tahu teamnya butuh dia, hingga dia perlakukan teamnya dengan semena-mena, semata-mata hanya untuk mecapai mimpi sang pangeran dan menjaga reputasinya saja. Dia tidak perduli teamnya sakit karena terlalu banyak bekerja, dia tidak perduli teamnya banyak berkorban perasaan demi dia. Yang dia tahu hanyalah dia butuh teamnya untuk mencapai mimpi2 dan harapan2 dia.

Sang pangeran yang begitu dipuja ternyata hanyalah setan bermuka dua.

Lama-kelamaan, teamnya memutuskan pergi diam2..hingga sang pangeran itu ditinggal sendirian. Sang Pangeran pun kewalahan. Dia banyak menerima hujatan langsung karena tidak ada lagi orang yang membentengi dia. Dia selalu kewalahan menyelesaikan semua masalah karena dia sekarang sendirian. Hingga akhirnya sang pangeran jatuh sakit dan mati dalam penyesalan begitu dalam dan doa kekecewaan dari semua team yang akhirnya membenci dia.

Sang Pangeran yang terpuja pun tamat..

"Untuk semua pangeran, jadilah pangeran seutuhnya.."

Salam,
Yopi Rismayady

Monday, November 03, 2008

Intinya Komunikasi!!!

Who (says) What (to) Whom (in) What Channel (with) What Effect..!!

Ayo anak Komunikasi pasti pada hapal kalimat diatas !!!
Tagline paling simple soal komunikasi kan. Siapa mengatakan apa kepada seseorang dalam cara apa dengan efek apa.. What a word.. Simple tapi bertenaga..
Harold Lasswell sang Politisi dan ahli komunikasi mungkin tidak akan sadar kalau kata2 nya akan dijadikan hapalan utama mahasiswa Komunikasi saat Sidang Komprehensif hehe..

Anyway saya gakan bahas Laswell dan semua karya ajaibnya..
Saya sedang tertarik untuk membahas soal emosi, tekanan dalam lingkungan, dan kaitannya komunikasi.

Nah, lalu apa hubungannya dengan Laswell?
Ya jelas ada lah.. Karena emosi selalu berkaitan dengan apa, siapa, cara, dan akibatnya.. Ya kan..
Jadi ada hubungannya.. Minimal dengan kata terakhir yaitu effects (efek).

Begini..
Saya ini orangnya emosian, cepet banget naek darah. Padahal sesudahnya saya suka malu sendiri sudah ngumbar kemarahan apalagi di depan umum. Plus cape juga kan marah2 itu..
Bayangkan ada puluhan ribu syaraf yang ikut tegang ketika kita emosi. Makanya setelah marah kita selalu merasa cape dan bahkan tidak jarang tertidur kan. Tapi itu dulu, kira2 10 tahun sampai 1 tahun lalu.

Jadi apa untungnya amarah? Karena satu masalah kecil kata2 kasar kita keluarkan, tekanan demi tekanan kita keluarkan untuk "memenangkan" prinsip kita. Untuk apa? ga ada untungnya ternyata.
Saya sekarang lebih memilih diam ketika saya emosi. Diam sekuat tenaga, walalu tetap raut muka marah atau emosi saya tetap sulit hilang dari muka saya, tapi lebih elegan daripada harus marah atau membentak-bentak.

Sekarang kita kaitkan dengan pekerjaan atau organisasi atau apalah yang berkaitan dengan sebuah lingkungan khalayak..

Saya berpengalaman dalam suatu rentang kendali kerja yang banyak. Bahkan pernah sampai 40 orang karyawan saya dan semua berusia diatas saya bahkan ada yang jauuuuhh di atas saya. Orang-orang ini kerjanya beragam, dan karena faktor usia, rata sedikit agak keras kepala dan susah diatur. maklum orang Indonesia, masih banyak yang berpendapat "Yang Tua Yang Bicara..".
Awalnya sangat sering saya emosi menghadapi tingkah laku mereka, pengennya dijejer satu-satu dan saya tampar masing2 100 kali..hehe.. menyebalkan..susah diatur..HH*%$*G(&(&GG$@!!!!!

Tapi saya lupa satu hal, alasan mereka bekerja, alasan mereka bertingkah laku, semua alasan.. Selama ini yang saya pikirkan cuma akibat..cuma efek..Tanpa saya cari sebabnya..

Satu hal yang akhirnya terbuka adalah mereka tidak suka dengan cara memimpin khususnya cara saya "menekan". Bukan apa2, saya menekan tanpa memberikan apa2 untuk mereka. Minimal rewards atau penghargaan. Padahal mereka bekerja dengan saya, ditekan oleh saya demi mencapai suatu kebutuhan yang harus mereka penuhi. Untuk dia, untuk keluarga dia.

Akhirnya, saya bertemu satu demi satu mereka, mencoba mengganti cara pendekatan saya untuk memotivasi mereka. Saya bicara, dengan hati2..menyentuh isi hati terdalam mereka. Saya mengeluarkan semua jurus komunikasi yang selama ini hanya saya kuasai secara teori. Saya rubah rumus tekanan saya, emosi saya, dengan suatu sistem penyemangat, membangkitkan semangat terpendam yang dahulu sempat tertahan justru karena tekanan saya. Saya pancing motivasi terdalam mereka, hingga keluarlah potensi asli mereka. Tak lupa saya meminta kepada manajemen untuk menambah sesuatu dalam pendapatan mereka. Mendidik mereka menjadi mata duitan?mungkin. Cuma apabila itu bisa meningkatkan pendapatan karena seluruh potensi keluar saya tidak keberatan. Ternyata komunikasi bisa menyelesaikan semua masalah saya.

Akhirnya sekarang saya termasuk orang yang percaya bahwa tekanan bukanlah cara memotivasi seseorang. Saya percaya rewards (perhargaan) lah yang paling bisa memotivasi seseorang. Rugi?mungkin karena lebih banyak dana untuk meng"harga"i seseorang, cuma saya percaya akan keuntungan dibalik itu semua. Kami akhirnya bekerja dengan lebih enjoy, tidak gampang menyalahkan, tidak gampang mencari kambing hitam, tidak gampang jadi pengecut dengan bersembunyi di punggung orang lain padahal dialah yang bersalah, tidak gampang menyerah ketika ada masalah, tapi lebih bersatu untuk menyelesaikan masalah secara bersama-sama.

Saya benci orang yang memperlakukan seseorang dalam tekanan. Menggantungkan granat aktif di leher mereka setelah pemicunya mereka dilepaskan. Memaksa mereka mengerjakan sesuatu dengan kecepatan 100km/jam, dan apabila kecepatan berkurang si granat akan meledak!! Well, bukan cara seperti untuk membangkitkan potensi seseorang.

Intinya komunikasi!! Semua hal di dunia bisa selesai dengan komunikasi yang baik. Komunikasi insani, komunikasi nurani, komunikasi yang bisa menyentuh core manusia. Emosi bukan cara menyelesaikan masalah, walaupun emosi adalah satu dari sisi manusiawi manusia yang paling hakiki.

Akan banyak tantangan yang akan mementahkan sistem komunikasi nurani saya, terutama kaum didikan yang terbiasa bermain dengan granat untuk membenarkan prinsip mereka.

Hanya saya percaya bahwa manusia itu mempunyai potensi baik dalam dirinya. Dan komunikasi yang baiklah yang bisa membangkitkan itu..

Dari Laswell kita tahu, bahwa apa yang kita katakan selalu berefek. Maka kita pasti akan tahu apa efek dari Komunikasi yang baik dan bernurani...

Salam,
Yopi Rismayady

Friday, October 31, 2008

Antara berharap dan bersabar...

Apa jadinya manusia hidup tanpa sebuah harapan? Apa jadinya manusia hidup tanpa sedikitpun menyimpan mimpi akan sesuatu yang ingin dia dapatkan atau dia raih? Kayaknya kalau benar dia tidak punya harapan, hanya ada dua opsi untuk dia. Berakhir di jalanan dengan baju compang-camping menggenggam selembar ijazah ketidak lulusan dari RS Jiwa, atau berakhir mengambang di kali setelah sebelumnya menceburkan diri dengan badan diperberat dengan batu 1 ton!! Ya cuma itu, gila atau mati saja sekalian.
Anak kecil saja kaya akan harapan, coba tanya ke anak kelas 1 SD, tanyalah cita2 mereka? pasti semua di dalam kelas berebutan mengacungkan tangan dan berteriak lantang tentang cita-cita mereka. Jadi alangkah konyolnya apabila orang dewasa seperti saya apabila tidak memiliki harapan atau cita2 atau bahkan mimpi.
Saya sedang berharap pada sesuatu sekarang. Sebuah harapan mulia, sebuah harapan yang bisa melipat gandakan kebahagiaan dalam hidup saya. Namun tak jua harapan itu terwujud. Kadang saya mati akal untuk bagaimana saya dapat mencapai harapan saya. Kadang saya bertanya apakah doa seseorang dzalim seperti saya memang susah masuk ke zona doa diterima oleh Allah SWT. Kadang saya bertanya keadilan Tuhan.
Tapi toh saya sadar sendiri bahwa semua yang ada di dalam dunia ini, semua alur dan pola kehidupan ini sudah diatur oleh-Nya. Dialah yang Maha Tahu akan kesiapan seseorang saat harapan itu diwujudkan dan diamanahkan. Sampai kita mati-matian juga kalo Dia belum mengizinkan yang tidak akan terwujud. Disitulah senyum saya mulai saya sunggingkan. Saya semakin mencintai Allah dengan menerima semua jalan hidup yang telah dia gariskan. Dialah yang lebih tahu apa yang paling membahagiakan untuk kita.
Kita harus sadar dan menyadari bahwa cobaan, ujian, atau apapun yang tiba ke kita secara kurang mengenakan itu ada lah bukti Allah SWT masih percaya bahwa kita masih bisa mengatasinya. Itulah sebenarnya point terpenting ketika kita coba menghikmahi ujian atau cobaan. Dan disitulah kita mulai naik tingkat untuk ujian kesabaran. Seberapa sabar kita menghadapi test dari Allah SWT.
Jangan lupa bahwa kita hidup bukan untuk mendapat anugerah dari sesama kita, yang kita cari semata-mata hanyalah Ridho Yang Kuasa.
Saya punya harapan, saya punya keinginan. Sekarang itu belum terwujud. Allah mungkin belum percaya saya. Jadi sekaranglah saatnya saya bersabar dan tetap berdoa. Semoga Allah mewujudkan harapan saya, keinginan saya..Segera...

Thursday, October 30, 2008

Cinematography Semiotics

Christian Metz memberikan suatu teori film yang selalu menjadi acuan masyarakat Postmodernisme untuk membuat film. Metz yang merupakan figur utama dalam Semiotika mengakui bahwa teori film yang ia lakukan tidak lepas dari pengaruh pendiri semiotika seperti Ferdinand de Saussure dan Pierce. Metz meng-import- teori signifikasi dari Roland Barthes yang menjadi penerus Ferdinand de Saussure dan melengkapinya..

Membuat film tidak segampang yang dibicarakan, karena menurut Budi Irawanto, film adalah penerapan semiotika yang sempurna, karena berbagai macam tanda terdapat didalamnya…

Pernah memperhatikan peangmbilan gambar untuk Nicholas Saputra (Rangga) saat melihat Dian Sastro (Cinta) menyanyi di atas panggung. Suasananya benar kena, aroma kekaguman dapat dicerna dari pergerakan kamera saat fokus ke mata Rangga.

Atau, pernah membayangkan mengapa Nia diNata selalu terkesan polos dalam menuangkan berbagai idenya ke film2 seperti Ca Bau Kan, atau bahkan Arisan?

Hal hal seperti ini yang juga harus diperhatikan, selain kepandaian akan Hardware sperti Kamera, Komputer Editing, Sound stuff, dll.

Membuat film memang gampang, namun menciptakan film yang baik tidaklah mudah itulah pendapat dari Rudi Sudjarwo…

Salam,

Yopi Rismayady