Alkisah ada seorang pangeran. Muda, gagah, kaya, pintar. Pangeran yang hidup di era modern ini sangat terkenal untuk pemuda seusianya. Hampir seorang di negeri itu mengenal dia dengan baik reputasinya sangatlah bagus diluar. Penghargaan demi penghargaan selalu dia dapatkan. Semua orang memuji, semua orang memuja, semua orang kagum..
Sang pangeran yang masih berusia muda pun semakin tersanjung, dan selalu ingin berbuat lebih dari apa yang lakukan sekarang. Jelas untuk bisa seperti itu dia tidak bisa melakukannya sendiri. Dia butuh orang lain, dia butuh team. Akhirnya pangeran pujaan itupun mulai menyeleksi dan mengadakan sayembara
Ribuan orang mendaftar untuk jadi bagian team sang pengeran. Ada yang memang mencari uang, rata-rata orang dewasa lah yang daftar ini, ada yang sekedar mencari pengalaman saja, rata-rata fresh graduate.. Jelas akhirnya dipilihlah banyak fresh graduate karena mereka mau bekerja dengan lebih giat untuk menunjukan diri sebagai yang terbaik dan mau digaji lebih rendah daripada yang sudah berpengalaman.
Dimulailah kerja team sang pangeran ini. Pertama2 seluruh team bekerja sangat mantap, sangat kompak dan bersemangat. Berminggu-minggu mereka bisa bertahan dalam kondisi ini.
Namun, semua mulai merasa ada yang lain dengan sang pangeran. Lama kelamaan sang pangeran menunjukan gelagat aslinya. Ternyata sang pangeran ini seorang yang pengecut dan bodoh. Dia tidak berkarater pemimpin seperti apa yang selama ini digambarkan dan dipuja orang. Dia pengecut yang senatiasa menempatkan orang di depan dia hanya ketika ada kesalahan saja, sehingga orang tidak melihat dia ketika kesalahan itu tertampak. Dia tampilkan orang lain untuk menutupi kesalahan yang sebenarnya adalah kesalahan dia. Tapi selalu segera maju ke depan ketika ada pujian atau sanjungan, walaupun itu sanjungan mungkin lebih tepat diberikan untuk teamnya.
Teamnya tau, kalo sang pangeran yang diluar itu dipuja bak dewa itu, di dalam hanyalah seorang pemuda manja, ga tahu apa2, pengecut, dan sama sekali tidak bisa memimpin..
Sang pangeran memang lumayan ramah dan supel kepada siapapun. Tapi di dalam, dia bisa tiba2 jadi setan yang sangat dibenci teamnya.
Teamnya tidak bisa apa, karena butuh uang dari sang pangeran. Dan hal itu dimanfaatkan benar oleh sang pangeran. Dia tahu teamnya butuh dia, hingga dia perlakukan teamnya dengan semena-mena, semata-mata hanya untuk mecapai mimpi sang pangeran dan menjaga reputasinya saja. Dia tidak perduli teamnya sakit karena terlalu banyak bekerja, dia tidak perduli teamnya banyak berkorban perasaan demi dia. Yang dia tahu hanyalah dia butuh teamnya untuk mencapai mimpi2 dan harapan2 dia.
Sang pangeran yang begitu dipuja ternyata hanyalah setan bermuka dua.
Lama-kelamaan, teamnya memutuskan pergi diam2..hingga sang pangeran itu ditinggal sendirian. Sang Pangeran pun kewalahan. Dia banyak menerima hujatan langsung karena tidak ada lagi orang yang membentengi dia. Dia selalu kewalahan menyelesaikan semua masalah karena dia sekarang sendirian. Hingga akhirnya sang pangeran jatuh sakit dan mati dalam penyesalan begitu dalam dan doa kekecewaan dari semua team yang akhirnya membenci dia.
Sang Pangeran yang terpuja pun tamat..
"Untuk semua pangeran, jadilah pangeran seutuhnya.."
Salam,
Yopi Rismayady
Sang pangeran yang masih berusia muda pun semakin tersanjung, dan selalu ingin berbuat lebih dari apa yang lakukan sekarang. Jelas untuk bisa seperti itu dia tidak bisa melakukannya sendiri. Dia butuh orang lain, dia butuh team. Akhirnya pangeran pujaan itupun mulai menyeleksi dan mengadakan sayembara
Ribuan orang mendaftar untuk jadi bagian team sang pengeran. Ada yang memang mencari uang, rata-rata orang dewasa lah yang daftar ini, ada yang sekedar mencari pengalaman saja, rata-rata fresh graduate.. Jelas akhirnya dipilihlah banyak fresh graduate karena mereka mau bekerja dengan lebih giat untuk menunjukan diri sebagai yang terbaik dan mau digaji lebih rendah daripada yang sudah berpengalaman.
Dimulailah kerja team sang pangeran ini. Pertama2 seluruh team bekerja sangat mantap, sangat kompak dan bersemangat. Berminggu-minggu mereka bisa bertahan dalam kondisi ini.
Namun, semua mulai merasa ada yang lain dengan sang pangeran. Lama kelamaan sang pangeran menunjukan gelagat aslinya. Ternyata sang pangeran ini seorang yang pengecut dan bodoh. Dia tidak berkarater pemimpin seperti apa yang selama ini digambarkan dan dipuja orang. Dia pengecut yang senatiasa menempatkan orang di depan dia hanya ketika ada kesalahan saja, sehingga orang tidak melihat dia ketika kesalahan itu tertampak. Dia tampilkan orang lain untuk menutupi kesalahan yang sebenarnya adalah kesalahan dia. Tapi selalu segera maju ke depan ketika ada pujian atau sanjungan, walaupun itu sanjungan mungkin lebih tepat diberikan untuk teamnya.
Teamnya tau, kalo sang pangeran yang diluar itu dipuja bak dewa itu, di dalam hanyalah seorang pemuda manja, ga tahu apa2, pengecut, dan sama sekali tidak bisa memimpin..
Sang pangeran memang lumayan ramah dan supel kepada siapapun. Tapi di dalam, dia bisa tiba2 jadi setan yang sangat dibenci teamnya.
Teamnya tidak bisa apa, karena butuh uang dari sang pangeran. Dan hal itu dimanfaatkan benar oleh sang pangeran. Dia tahu teamnya butuh dia, hingga dia perlakukan teamnya dengan semena-mena, semata-mata hanya untuk mecapai mimpi sang pangeran dan menjaga reputasinya saja. Dia tidak perduli teamnya sakit karena terlalu banyak bekerja, dia tidak perduli teamnya banyak berkorban perasaan demi dia. Yang dia tahu hanyalah dia butuh teamnya untuk mencapai mimpi2 dan harapan2 dia.
Sang pangeran yang begitu dipuja ternyata hanyalah setan bermuka dua.
Lama-kelamaan, teamnya memutuskan pergi diam2..hingga sang pangeran itu ditinggal sendirian. Sang Pangeran pun kewalahan. Dia banyak menerima hujatan langsung karena tidak ada lagi orang yang membentengi dia. Dia selalu kewalahan menyelesaikan semua masalah karena dia sekarang sendirian. Hingga akhirnya sang pangeran jatuh sakit dan mati dalam penyesalan begitu dalam dan doa kekecewaan dari semua team yang akhirnya membenci dia.
Sang Pangeran yang terpuja pun tamat..
"Untuk semua pangeran, jadilah pangeran seutuhnya.."
Salam,
Yopi Rismayady