Tuesday, November 04, 2008

Dongeng Sang Pangeran

Alkisah ada seorang pangeran. Muda, gagah, kaya, pintar. Pangeran yang hidup di era modern ini sangat terkenal untuk pemuda seusianya. Hampir seorang di negeri itu mengenal dia dengan baik reputasinya sangatlah bagus diluar. Penghargaan demi penghargaan selalu dia dapatkan. Semua orang memuji, semua orang memuja, semua orang kagum..

Sang pangeran yang masih berusia muda pun semakin tersanjung, dan selalu ingin berbuat lebih dari apa yang lakukan sekarang. Jelas untuk bisa seperti itu dia tidak bisa melakukannya sendiri. Dia butuh orang lain, dia butuh team. Akhirnya pangeran pujaan itupun mulai menyeleksi dan mengadakan sayembara

Ribuan orang mendaftar untuk jadi bagian team sang pengeran. Ada yang memang mencari uang, rata-rata orang dewasa lah yang daftar ini, ada yang sekedar mencari pengalaman saja, rata-rata fresh graduate.. Jelas akhirnya dipilihlah banyak fresh graduate karena mereka mau bekerja dengan lebih giat untuk menunjukan diri sebagai yang terbaik dan mau digaji lebih rendah daripada yang sudah berpengalaman.

Dimulailah kerja team sang pangeran ini. Pertama2 seluruh team bekerja sangat mantap, sangat kompak dan bersemangat. Berminggu-minggu mereka bisa bertahan dalam kondisi ini.

Namun, semua mulai merasa ada yang lain dengan sang pangeran. Lama kelamaan sang pangeran menunjukan gelagat aslinya. Ternyata sang pangeran ini seorang yang pengecut dan bodoh. Dia tidak berkarater pemimpin seperti apa yang selama ini digambarkan dan dipuja orang. Dia pengecut yang senatiasa menempatkan orang di depan dia hanya ketika ada kesalahan saja, sehingga orang tidak melihat dia ketika kesalahan itu tertampak. Dia tampilkan orang lain untuk menutupi kesalahan yang sebenarnya adalah kesalahan dia. Tapi selalu segera maju ke depan ketika ada pujian atau sanjungan, walaupun itu sanjungan mungkin lebih tepat diberikan untuk teamnya.

Teamnya tau, kalo sang pangeran yang diluar itu dipuja bak dewa itu, di dalam hanyalah seorang pemuda manja, ga tahu apa2, pengecut, dan sama sekali tidak bisa memimpin..

Sang pangeran memang lumayan ramah dan supel kepada siapapun. Tapi di dalam, dia bisa tiba2 jadi setan yang sangat dibenci teamnya.

Teamnya tidak bisa apa, karena butuh uang dari sang pangeran. Dan hal itu dimanfaatkan benar oleh sang pangeran. Dia tahu teamnya butuh dia, hingga dia perlakukan teamnya dengan semena-mena, semata-mata hanya untuk mecapai mimpi sang pangeran dan menjaga reputasinya saja. Dia tidak perduli teamnya sakit karena terlalu banyak bekerja, dia tidak perduli teamnya banyak berkorban perasaan demi dia. Yang dia tahu hanyalah dia butuh teamnya untuk mencapai mimpi2 dan harapan2 dia.

Sang pangeran yang begitu dipuja ternyata hanyalah setan bermuka dua.

Lama-kelamaan, teamnya memutuskan pergi diam2..hingga sang pangeran itu ditinggal sendirian. Sang Pangeran pun kewalahan. Dia banyak menerima hujatan langsung karena tidak ada lagi orang yang membentengi dia. Dia selalu kewalahan menyelesaikan semua masalah karena dia sekarang sendirian. Hingga akhirnya sang pangeran jatuh sakit dan mati dalam penyesalan begitu dalam dan doa kekecewaan dari semua team yang akhirnya membenci dia.

Sang Pangeran yang terpuja pun tamat..

"Untuk semua pangeran, jadilah pangeran seutuhnya.."

Salam,
Yopi Rismayady

Monday, November 03, 2008

Intinya Komunikasi!!!

Who (says) What (to) Whom (in) What Channel (with) What Effect..!!

Ayo anak Komunikasi pasti pada hapal kalimat diatas !!!
Tagline paling simple soal komunikasi kan. Siapa mengatakan apa kepada seseorang dalam cara apa dengan efek apa.. What a word.. Simple tapi bertenaga..
Harold Lasswell sang Politisi dan ahli komunikasi mungkin tidak akan sadar kalau kata2 nya akan dijadikan hapalan utama mahasiswa Komunikasi saat Sidang Komprehensif hehe..

Anyway saya gakan bahas Laswell dan semua karya ajaibnya..
Saya sedang tertarik untuk membahas soal emosi, tekanan dalam lingkungan, dan kaitannya komunikasi.

Nah, lalu apa hubungannya dengan Laswell?
Ya jelas ada lah.. Karena emosi selalu berkaitan dengan apa, siapa, cara, dan akibatnya.. Ya kan..
Jadi ada hubungannya.. Minimal dengan kata terakhir yaitu effects (efek).

Begini..
Saya ini orangnya emosian, cepet banget naek darah. Padahal sesudahnya saya suka malu sendiri sudah ngumbar kemarahan apalagi di depan umum. Plus cape juga kan marah2 itu..
Bayangkan ada puluhan ribu syaraf yang ikut tegang ketika kita emosi. Makanya setelah marah kita selalu merasa cape dan bahkan tidak jarang tertidur kan. Tapi itu dulu, kira2 10 tahun sampai 1 tahun lalu.

Jadi apa untungnya amarah? Karena satu masalah kecil kata2 kasar kita keluarkan, tekanan demi tekanan kita keluarkan untuk "memenangkan" prinsip kita. Untuk apa? ga ada untungnya ternyata.
Saya sekarang lebih memilih diam ketika saya emosi. Diam sekuat tenaga, walalu tetap raut muka marah atau emosi saya tetap sulit hilang dari muka saya, tapi lebih elegan daripada harus marah atau membentak-bentak.

Sekarang kita kaitkan dengan pekerjaan atau organisasi atau apalah yang berkaitan dengan sebuah lingkungan khalayak..

Saya berpengalaman dalam suatu rentang kendali kerja yang banyak. Bahkan pernah sampai 40 orang karyawan saya dan semua berusia diatas saya bahkan ada yang jauuuuhh di atas saya. Orang-orang ini kerjanya beragam, dan karena faktor usia, rata sedikit agak keras kepala dan susah diatur. maklum orang Indonesia, masih banyak yang berpendapat "Yang Tua Yang Bicara..".
Awalnya sangat sering saya emosi menghadapi tingkah laku mereka, pengennya dijejer satu-satu dan saya tampar masing2 100 kali..hehe.. menyebalkan..susah diatur..HH*%$*G(&(&GG$@!!!!!

Tapi saya lupa satu hal, alasan mereka bekerja, alasan mereka bertingkah laku, semua alasan.. Selama ini yang saya pikirkan cuma akibat..cuma efek..Tanpa saya cari sebabnya..

Satu hal yang akhirnya terbuka adalah mereka tidak suka dengan cara memimpin khususnya cara saya "menekan". Bukan apa2, saya menekan tanpa memberikan apa2 untuk mereka. Minimal rewards atau penghargaan. Padahal mereka bekerja dengan saya, ditekan oleh saya demi mencapai suatu kebutuhan yang harus mereka penuhi. Untuk dia, untuk keluarga dia.

Akhirnya, saya bertemu satu demi satu mereka, mencoba mengganti cara pendekatan saya untuk memotivasi mereka. Saya bicara, dengan hati2..menyentuh isi hati terdalam mereka. Saya mengeluarkan semua jurus komunikasi yang selama ini hanya saya kuasai secara teori. Saya rubah rumus tekanan saya, emosi saya, dengan suatu sistem penyemangat, membangkitkan semangat terpendam yang dahulu sempat tertahan justru karena tekanan saya. Saya pancing motivasi terdalam mereka, hingga keluarlah potensi asli mereka. Tak lupa saya meminta kepada manajemen untuk menambah sesuatu dalam pendapatan mereka. Mendidik mereka menjadi mata duitan?mungkin. Cuma apabila itu bisa meningkatkan pendapatan karena seluruh potensi keluar saya tidak keberatan. Ternyata komunikasi bisa menyelesaikan semua masalah saya.

Akhirnya sekarang saya termasuk orang yang percaya bahwa tekanan bukanlah cara memotivasi seseorang. Saya percaya rewards (perhargaan) lah yang paling bisa memotivasi seseorang. Rugi?mungkin karena lebih banyak dana untuk meng"harga"i seseorang, cuma saya percaya akan keuntungan dibalik itu semua. Kami akhirnya bekerja dengan lebih enjoy, tidak gampang menyalahkan, tidak gampang mencari kambing hitam, tidak gampang jadi pengecut dengan bersembunyi di punggung orang lain padahal dialah yang bersalah, tidak gampang menyerah ketika ada masalah, tapi lebih bersatu untuk menyelesaikan masalah secara bersama-sama.

Saya benci orang yang memperlakukan seseorang dalam tekanan. Menggantungkan granat aktif di leher mereka setelah pemicunya mereka dilepaskan. Memaksa mereka mengerjakan sesuatu dengan kecepatan 100km/jam, dan apabila kecepatan berkurang si granat akan meledak!! Well, bukan cara seperti untuk membangkitkan potensi seseorang.

Intinya komunikasi!! Semua hal di dunia bisa selesai dengan komunikasi yang baik. Komunikasi insani, komunikasi nurani, komunikasi yang bisa menyentuh core manusia. Emosi bukan cara menyelesaikan masalah, walaupun emosi adalah satu dari sisi manusiawi manusia yang paling hakiki.

Akan banyak tantangan yang akan mementahkan sistem komunikasi nurani saya, terutama kaum didikan yang terbiasa bermain dengan granat untuk membenarkan prinsip mereka.

Hanya saya percaya bahwa manusia itu mempunyai potensi baik dalam dirinya. Dan komunikasi yang baiklah yang bisa membangkitkan itu..

Dari Laswell kita tahu, bahwa apa yang kita katakan selalu berefek. Maka kita pasti akan tahu apa efek dari Komunikasi yang baik dan bernurani...

Salam,
Yopi Rismayady