Who (says) What (to) Whom (in) What Channel (with) What Effect..!!
Ayo anak Komunikasi pasti pada hapal kalimat diatas !!!
Tagline paling simple soal komunikasi kan. Siapa mengatakan apa kepada seseorang dalam cara apa dengan efek apa.. What a word.. Simple tapi bertenaga..
Harold Lasswell sang Politisi dan ahli komunikasi mungkin tidak akan sadar kalau kata2 nya akan dijadikan hapalan utama mahasiswa Komunikasi saat Sidang Komprehensif hehe..
Anyway saya gakan bahas Laswell dan semua karya ajaibnya.. Saya sedang tertarik untuk membahas soal emosi, tekanan dalam lingkungan, dan kaitannya komunikasi.
Nah, lalu apa hubungannya dengan Laswell?
Ya jelas ada lah.. Karena emosi selalu berkaitan dengan apa, siapa, cara, dan akibatnya.. Ya kan..
Jadi ada hubungannya.. Minimal dengan kata terakhir yaitu effects (efek).
Begini..
Saya ini orangnya emosian, cepet banget naek darah. Padahal sesudahnya saya suka malu sendiri sudah ngumbar kemarahan apalagi di depan umum. Plus cape juga kan marah2 itu..
Bayangkan ada puluhan ribu syaraf yang ikut tegang ketika kita emosi. Makanya setelah marah kita selalu merasa cape dan bahkan tidak jarang tertidur kan. Tapi itu dulu, kira2 10 tahun sampai 1 tahun lalu.
Jadi apa untungnya amarah? Karena satu masalah kecil kata2 kasar kita keluarkan, tekanan demi tekanan kita keluarkan untuk "memenangkan" prinsip kita. Untuk apa? ga ada untungnya ternyata.
Saya sekarang lebih memilih diam ketika saya emosi. Diam sekuat tenaga, walalu tetap raut muka marah atau emosi saya tetap sulit hilang dari muka saya, tapi lebih elegan daripada harus marah atau membentak-bentak.
Sekarang kita kaitkan dengan pekerjaan atau organisasi atau apalah yang berkaitan dengan sebuah lingkungan khalayak..
Saya berpengalaman dalam suatu rentang kendali kerja yang banyak. Bahkan pernah sampai 40 orang karyawan saya dan semua berusia diatas saya bahkan ada yang jauuuuhh di atas saya. Orang-orang ini kerjanya beragam, dan karena faktor usia, rata sedikit agak keras kepala dan susah diatur. maklum orang Indonesia, masih banyak yang berpendapat "Yang Tua Yang Bicara..".
Awalnya sangat sering saya emosi menghadapi tingkah laku mereka, pengennya dijejer satu-satu dan saya tampar masing2 100 kali..hehe.. menyebalkan..susah diatur..HH*%$*G(&(&GG$@!!!!!
Tapi saya lupa satu hal, alasan mereka bekerja, alasan mereka bertingkah laku, semua alasan.. Selama ini yang saya pikirkan cuma akibat..cuma efek..Tanpa saya cari sebabnya..
Satu hal yang akhirnya terbuka adalah mereka tidak suka dengan cara memimpin khususnya cara saya "menekan". Bukan apa2, saya menekan tanpa memberikan apa2 untuk mereka. Minimal rewards atau penghargaan. Padahal mereka bekerja dengan saya, ditekan oleh saya demi mencapai suatu kebutuhan yang harus mereka penuhi. Untuk dia, untuk keluarga dia.
Akhirnya, saya bertemu satu demi satu mereka, mencoba mengganti cara pendekatan saya untuk memotivasi mereka. Saya bicara, dengan hati2..menyentuh isi hati terdalam mereka. Saya mengeluarkan semua jurus komunikasi yang selama ini hanya saya kuasai secara teori. Saya rubah rumus tekanan saya, emosi saya, dengan suatu sistem penyemangat, membangkitkan semangat terpendam yang dahulu sempat tertahan justru karena tekanan saya. Saya pancing motivasi terdalam mereka, hingga keluarlah potensi asli mereka. Tak lupa saya meminta kepada manajemen untuk menambah sesuatu dalam pendapatan mereka. Mendidik mereka menjadi mata duitan?mungkin. Cuma apabila itu bisa meningkatkan pendapatan karena seluruh potensi keluar saya tidak keberatan. Ternyata komunikasi bisa menyelesaikan semua masalah saya.
Akhirnya sekarang saya termasuk orang yang percaya bahwa tekanan bukanlah cara memotivasi seseorang. Saya percaya rewards (perhargaan) lah yang paling bisa memotivasi seseorang. Rugi?mungkin karena lebih banyak dana untuk meng"harga"i seseorang, cuma saya percaya akan keuntungan dibalik itu semua. Kami akhirnya bekerja dengan lebih enjoy, tidak gampang menyalahkan, tidak gampang mencari kambing hitam, tidak gampang jadi pengecut dengan bersembunyi di punggung orang lain padahal dialah yang bersalah, tidak gampang menyerah ketika ada masalah, tapi lebih bersatu untuk menyelesaikan masalah secara bersama-sama.
Saya benci orang yang memperlakukan seseorang dalam tekanan. Menggantungkan granat aktif di leher mereka setelah pemicunya mereka dilepaskan. Memaksa mereka mengerjakan sesuatu dengan kecepatan 100km/jam, dan apabila kecepatan berkurang si granat akan meledak!! Well, bukan cara seperti untuk membangkitkan potensi seseorang.
Intinya komunikasi!! Semua hal di dunia bisa selesai dengan komunikasi yang baik. Komunikasi insani, komunikasi nurani, komunikasi yang bisa menyentuh core manusia. Emosi bukan cara menyelesaikan masalah, walaupun emosi adalah satu dari sisi manusiawi manusia yang paling hakiki.
Akan banyak tantangan yang akan mementahkan sistem komunikasi nurani saya, terutama kaum didikan yang terbiasa bermain dengan granat untuk membenarkan prinsip mereka.
Hanya saya percaya bahwa manusia itu mempunyai potensi baik dalam dirinya. Dan komunikasi yang baiklah yang bisa membangkitkan itu..
Dari Laswell kita tahu, bahwa apa yang kita katakan selalu berefek. Maka kita pasti akan tahu apa efek dari Komunikasi yang baik dan bernurani...
Salam,
Yopi Rismayady
Kalau Masih Menggunakan FB Jangan Benci Zionis (Prolog Risalah Demokrasi 2)
-
Demokrasi, hal yang sederhana dalam memandangnya, tetapi tidak menjadi
sederhana jika kita memiliki kepentingan. Hehe, orang yang mendukung
demokrasi pun...
12 years ago
No comments:
Post a Comment