Friday, October 31, 2008

Antara berharap dan bersabar...

Apa jadinya manusia hidup tanpa sebuah harapan? Apa jadinya manusia hidup tanpa sedikitpun menyimpan mimpi akan sesuatu yang ingin dia dapatkan atau dia raih? Kayaknya kalau benar dia tidak punya harapan, hanya ada dua opsi untuk dia. Berakhir di jalanan dengan baju compang-camping menggenggam selembar ijazah ketidak lulusan dari RS Jiwa, atau berakhir mengambang di kali setelah sebelumnya menceburkan diri dengan badan diperberat dengan batu 1 ton!! Ya cuma itu, gila atau mati saja sekalian.
Anak kecil saja kaya akan harapan, coba tanya ke anak kelas 1 SD, tanyalah cita2 mereka? pasti semua di dalam kelas berebutan mengacungkan tangan dan berteriak lantang tentang cita-cita mereka. Jadi alangkah konyolnya apabila orang dewasa seperti saya apabila tidak memiliki harapan atau cita2 atau bahkan mimpi.
Saya sedang berharap pada sesuatu sekarang. Sebuah harapan mulia, sebuah harapan yang bisa melipat gandakan kebahagiaan dalam hidup saya. Namun tak jua harapan itu terwujud. Kadang saya mati akal untuk bagaimana saya dapat mencapai harapan saya. Kadang saya bertanya apakah doa seseorang dzalim seperti saya memang susah masuk ke zona doa diterima oleh Allah SWT. Kadang saya bertanya keadilan Tuhan.
Tapi toh saya sadar sendiri bahwa semua yang ada di dalam dunia ini, semua alur dan pola kehidupan ini sudah diatur oleh-Nya. Dialah yang Maha Tahu akan kesiapan seseorang saat harapan itu diwujudkan dan diamanahkan. Sampai kita mati-matian juga kalo Dia belum mengizinkan yang tidak akan terwujud. Disitulah senyum saya mulai saya sunggingkan. Saya semakin mencintai Allah dengan menerima semua jalan hidup yang telah dia gariskan. Dialah yang lebih tahu apa yang paling membahagiakan untuk kita.
Kita harus sadar dan menyadari bahwa cobaan, ujian, atau apapun yang tiba ke kita secara kurang mengenakan itu ada lah bukti Allah SWT masih percaya bahwa kita masih bisa mengatasinya. Itulah sebenarnya point terpenting ketika kita coba menghikmahi ujian atau cobaan. Dan disitulah kita mulai naik tingkat untuk ujian kesabaran. Seberapa sabar kita menghadapi test dari Allah SWT.
Jangan lupa bahwa kita hidup bukan untuk mendapat anugerah dari sesama kita, yang kita cari semata-mata hanyalah Ridho Yang Kuasa.
Saya punya harapan, saya punya keinginan. Sekarang itu belum terwujud. Allah mungkin belum percaya saya. Jadi sekaranglah saatnya saya bersabar dan tetap berdoa. Semoga Allah mewujudkan harapan saya, keinginan saya..Segera...

Thursday, October 30, 2008

Cinematography Semiotics

Christian Metz memberikan suatu teori film yang selalu menjadi acuan masyarakat Postmodernisme untuk membuat film. Metz yang merupakan figur utama dalam Semiotika mengakui bahwa teori film yang ia lakukan tidak lepas dari pengaruh pendiri semiotika seperti Ferdinand de Saussure dan Pierce. Metz meng-import- teori signifikasi dari Roland Barthes yang menjadi penerus Ferdinand de Saussure dan melengkapinya..

Membuat film tidak segampang yang dibicarakan, karena menurut Budi Irawanto, film adalah penerapan semiotika yang sempurna, karena berbagai macam tanda terdapat didalamnya…

Pernah memperhatikan peangmbilan gambar untuk Nicholas Saputra (Rangga) saat melihat Dian Sastro (Cinta) menyanyi di atas panggung. Suasananya benar kena, aroma kekaguman dapat dicerna dari pergerakan kamera saat fokus ke mata Rangga.

Atau, pernah membayangkan mengapa Nia diNata selalu terkesan polos dalam menuangkan berbagai idenya ke film2 seperti Ca Bau Kan, atau bahkan Arisan?

Hal hal seperti ini yang juga harus diperhatikan, selain kepandaian akan Hardware sperti Kamera, Komputer Editing, Sound stuff, dll.

Membuat film memang gampang, namun menciptakan film yang baik tidaklah mudah itulah pendapat dari Rudi Sudjarwo…

Salam,

Yopi Rismayady